Pada Pohon Kita Belajar

Ada orang-orang yang memperlihatkan amalan ibadahnya. Ada yang memperlihatkan solatnya, tilawahnya, shaum-nya, sedekahnya, dan lain sebagainya. Salah, kah? Bagi saya tidak, meski ada orang-orang yang mempermasalahkannya.

Orang-orang yang mempermasalahkan itu bisa jadi karena beranggapan bahwa orang tersebut pamer. Benarkah demikian? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, saya percaya bahwa segala amalan itu kembali ke niatnya. Dan niat yang di dalam hati itu sulit dilihat secara jelas oleh orang lain. Makanya, daripada terjebak dalam prasangka, saya memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Dan lagi, orang-orang yang mempermasalahkan itu, belum tentu ibadahnya lebih baik, bahkan terbuka kemungkinan lebih buruk. 

Bagi saya, manusia itu bisa jadi seperti pohon. Di pohon itu, kan, ada bagian yang terlihat dan tidak terlihat. Bagian yang terlihat itu seperti daun, dahan, dan batang. Bagian yang tidak terlihat itu semisal akar. Nah, orang-orang yang beribadah itu bisa memilih menjadi salah satu bagian di pohon. Bisa memutuskan untuk terlihat, bisa juga memilih untuk tidak terlihat. Sama saja. Toh semua ada manfaatnya, semua ada kerjanya. Dan masing-masing bagian itu bisa menginspirasi. Wallahu’alam.

3 thoughts on “Pada Pohon Kita Belajar

  1. kalo sy, ibadah sebatas mengikuti syariat, kalao kaifiatnya mesti dilihat orang, yg tetep maslahat, yg bikin mudhorat itu ketika ibadah tidak lebih untuk mendapat pujian. ini bahaya. soalnya ujian bisa saja menghampirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s