Setelah Dia Pergi

Kepergian itu bukan barang baru. Sama sekali tidak. Sudah biasa dan terjadi setiap hari. Mungkin karena itulah terkadang kita tidak merasakan kepergian itu.

Ya, telah banyak yang pergi. Dan belum tentu kita merasakannya. Sampai kemudian…. Bang!  Ada kejadian yang menyadarkan kita bahwa sesuatu atau seseorang itu telah pergi. Tinggallah kita mengekspresikan kehilangan itu dengan berbagai tingkah.

Cerita anak 13 tahun yang mengalami kecelakaan di jalan tol ketika mengendarai mobil mewah pada dini hari, mungkin itu simbol dari hilangnya perhatian orang tua terhadap anaknya. Kisah tentang mantan tunangan seorang artis yang menggunakan istilah-istilah yang entah apa maknanya saat diwawancara, mungkin itu simbol dari hilangnya kecintaan kita terhadap bahasa. Dan ketika kabar-kabar sejenis mengisi hari-hari kita, kita meresponsnya dengan berbagai cara. Respons yang sebenarnya  menunjukkan kita sedang gelisah, terlepas disadari atau tidak.

Kejadian-kejadian yang menyadarkan itu penting. Bukan untuk mengutuk. Bukan. Karena kita punya istilah “takdir” untuk sesuatu yang telah terjadi. Bagaimana mungkin menghindari takdir yang telah terjadi? Tapi sekali lagi, kejadian-kejadian yang menyadarkan itu penting. Setidaknya ia  membuat kita merasa: ada ruang di dalam hidup kita – yang tadinya terisi, kini telah menjadi kosong.

2 thoughts on “Setelah Dia Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s