Suami Sadar Diri, Istri Tahu Diri

pengantin

Dalam menghadapi masalah rumah tangga memang dibutuhkan kesadaran dua pihak: suami dan istri. Hanya suami saja yang sadar, bisa merana. Hanya istri saja yang sadar, bisa makan hati. Itulah kenapa penting untuk menghadirkan kesadaran bagi masing-masing pihak.

Suami yang lupa diri bisa bahaya. Merasa paling benar, merasa paling kuasa. Akibatnya ketika istri tidak nurut, jadi ringan tangan. Padahal, saya pikir, semua setuju – setidaknya pada awalnya, bahwa tangan kekar seorang suami itu bukan untuk menghajar makhluk bernama istri.

Kalau punya tangan kuat, lengan berotot, bukankah lebih membahagiakan digunakan untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan kesenangan bagi kedua pihak daripada untuk memeras air mata istri? Setuju aja apa setuju banget?🙂

Istri yang tak tahu diri juga bahaya. Merasa harus disayang, diperhatikan, dimenangkan. Itu semua betul. Tapi harus lihat situasi. Apalagi untuk hal yang terakhir itu. Bisa jadi itu merupakan hal sensitif bagi suami, apalagi kalau sang suami berkepribadian koleris kuat.

Menginginkan kondisi menang terus menerus? Kalau untuk pertempuran ranjang mungkin bisa diskenariokan. Bahkan sah-sah saja membuat suami bertekuk-lutut misalnya. Tapi kalau dalam kehidupan sehari-hari, rasanya harus bijak bernegosiasi. Ingat, yang penting tujuan tercapai. Tujuan tercapai itu berbeda dengan keadaan seperti mengibarkan panji-panji kemenangan.

Misalnya ada suami yang suka pulang malam untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Nah, jika sang istri tidak suka dengan kondisi itu, harus cari cara bijak untuk mengatasinya. Jangan lantas menghardik suami dengan kasar, “Heh, laki setan, pulang malem terus!”

Kalau suami dihardik seperti itu, bisa jadi bukannya nurut, malah bisa semakin jadi kalong. Sudah bagus kalau suaminya bisa tetap tenang. Tapi kalau kemudian suami jadi ringan tangan, saya percaya bahwa itu bukan takdir… mungkin lebih tepat disebut nasib yang sengaja disialkan.

Bagaimanapun, yang lebih tahu tentang pasangan masing-masing, ya, tentu pasangannya itu sendiri. Setiap pasangan idealnya punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Yang perlu diingat, teruslah menghadirkan kesadaran tentang diri sendiri. Oh, saya suami, maka bertindaklah sebagai suami yang sadar diri. Oh, saya istri, maka jalankan peran sebagai istri yang tahu diri.

One thought on “Suami Sadar Diri, Istri Tahu Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s