Logika Supir Taksi Vs Orang Ngantuk

Hari hampir berganti. Setelah menunggu sekitar 45 menit, akhirnya tiba juga jadwal berangkat travel menuju Bandung. Saya yang memang sudah ngantuk berat, seperti dapat tempat istimewa untuk tidur. Maka sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung, saya benar-benar tidak terbangun sedetik pun. Bahkan setelah travel berhenti, saya belum benar-benar sadar bahwa sudah sampai Bandung.

Oh, ini sudah sampai Bandung, ya? Oh, sudah jam 2 dini hari, ya? Oh, gimana caranya nyampe rumah? Oh, ada taksi lewat, ya? Oh, naik taksi aja!

“Kemana, A’?” tanya supir taksi.

“Buah Batu.”

“Lewat mana?”

“Lewat yang paling cepet aja.”

Saya sebenarnya mau tidur lagi. Tapi, kalau dibawa kabur supir taksi, gimana dong? Lagian ini supir taksi, sudah saya bilang lewat jalan yang paling cepat, malah pilih jalan yang… entah lah!

Dari Cihampelas, dia tidak pilih Jembatan Pasopati, malah lurus. Oke, mungkin Pak Supir punya jalan yang lebih cepat. Pas lewat perempatan Jalan Merdeka (dekat BIP), bukannya belok kanan,malah lurus ke arah Jalan Riau.

Saya spontan nanya,” Mau lewat mana, Pak?”

“Ini, lurus aja,” katanya.

Akhirnya taksi itu luruuuuus aja… dan lama!

Setelah sampai, saya tanya, “Memang biasa ya, Pak, pilih jalan yang lama?”

“Maksudnya, A’?”

“Lha, ini, kan, bapak muter-muter, padahal tadi saya bilang pilih jalan yang paling cepet!”

“Emang seharusnya lewat mana?” Dia menguji saya.

“Harusnya di perempatan BIP itu Bapak belok kanan, ini malahan lurus!”

Di keremangan taksi itu saya melihat gesturnya yang kaget dan… mungkin merasa bersalah. “Yaudah, atuh, ini dipotong aja ongkos taksinya,” katanya, akhirnya.

“Gak usah, ambil aja!”

Hmm, supir taksi itu pertimbangannya uang, sedangkan saya waktu. Kalau kerugian uang memang relatif mudah mengembalikanya, tapi bagaimana mengembalikan waktu? Ah, sudahlah, itu Evra sudah bikin gol, dua menit kemudian dibalas kontan oleh Mandzukic. Babak pertama Munchen vs MU di leg kedua UCL berakhir sudah. Babak selanjutnya kita lihat besok pagi di TweetLand. Zzzz, zzz, zzzz….

3 thoughts on “Logika Supir Taksi Vs Orang Ngantuk

  1. sabar atuh kang
    itu teh supir taksi sudah bertanggung jawab kang n ga mungkin lah ngembaliin waktu

    definisi “lewat jalan yang cepat” itu sendiri bias kang. macet ga bisa diprediksi.. itu kayak kang dedi beli buah maunya yang manis.. gimana coba ceknya?

    dalam hal ini masih banyak variabel tak terduga
    mungkin emang supirnya ga tau jalan yang kang dedy maksud
    mungkin biasanya jalan yang supir itu tempuh termasuk cepat

    #saveSupirTaksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s