Novel “Bumi Cinta”

Bumi Cinta adalah novel terbaru Kang Abik, begitu Habiburrahman El Shirazy akrab disapa. Novel ini menceritakan tentang seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang menyelesaikan kuliah pasca sarjana di India. Untuk menyelesaikan kuliahnya, Muhammad Ayyas, tokoh utama dalam novel ini, harus melakukan penelitian di Rusia.

Pada musim dingin yang menggigit tulang, Ayyas tiba di Moskwa, ibukota Rusia. Ia disambut oleh Devid, teman satu SMP waktu masih di Indonesia, yang telah lebih dahulu tinggal di Rusia. Devid inilah yang membantu Ayyas mencarikan apartemen untuk tempat tinggal selama di Moskwa.

Masalah mulai timbul saat Ayyas mengetahui bahwa di apartemen itu, ia harus tinggal bersama dua wanita yang bukan mahromnya. Ayyas langsung menyampaikan keberatannya. Namun Devid menyampaikan argumen yang tak terbantahkan, semata-mata ini untuk keamanan, kenyamanan, dan sudah tidak ada pilihan apartemen lainnya bagi Ayyas.

Teman seapartemen Ayyas bernama Linor dan Yelena. Walaupun memilik kamar masing-masing, tapi tetap saja mereka harus menggunakan Baca lebih lanjut

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Perihal Novel yang Tak Pernah Selesai

 

 

Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

 

 

Setelah sukses dengan dengan novel Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Pukat, dan Burlian, tahun 2010 ini Tere Liye menyapa para pembacanya dengan karya terbarunya. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, begitulah judulnya. Sebuah judul yang cukup panjang dan filosofis.

 

Novel ini mengisahkan kehidupan keluarga miskin yang terdiri dari ibu dan dua orang anak yang masih kecil; Tania berumur 11 tahun dan adik laki- Baca lebih lanjut

Seperti Dua Mata

 

/ i /

Perjalanan Lampung-Bandung bulan Oktober itu terasa begitu berbeda. Sudah sering saya melakukan perjalanan serupa, sebagaian besar waktu biasanya dihabiskan untuk tidur. Perjalanan malam memang tidak mengizinkan mata ini menangkap bayang bukit barisan yang berderet-deret, atau sekadar takjub menyaksikan pohon pisang yang berbaris-baris, yang ketika daunnya tertiup angin seolah melambai mengucap sayonara. Apa kiranya pilihan kegiatan paling lumrah dalam kegelapan seperti itu? Tidur.

 

Perjalanan Lampung-Bandung bulan Oktober itu terasa begitu berbeda. Sudah sering saya melakukan perjalanan serupa, sebagian besar waktu biasanya dihabiskan untuk tidur. Ketika lampu bis sudah dimatikan sejak awal perjalanan, ketika itu juga mata mulai meredup. Saat bis memasuki kapal laut dengan tujuan BakauheniMerak, itu merupakan saat-saat paling membosankan karena menyaksikan antrian panjang atau menunggu kapal menepi di dermaga. Apa kiranya pilihan kegiatan paling lumrah dalam kebosanan seperti itu? Tidur. Baca lebih lanjut

Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru

Seperti hari-hari belakangan ini, saya selalu membeli buku secara tidak sengaja. Lho, kok bisa? Iya, soalnya pas maen ke toko buku, niatnya cuma untuk liat-liat aja, liat aja kan ga beli hehehe…. ga ding becanda, ya klo ada buku yang minat, ya dibeli lah ^_^

Satu per satu buku yang dipajang di dinding udah diliat, dibaca judulnya, diliat pengarangnya, kayaknya ga ada yang cocok dibeli deh. Tenang,,, tenang,,, bukan karena ga cocok ama minat, tapi ga cocok ama kantong hohohoho ^_^

Akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi,,, nih mata kayaknya ga ikhlas klo ga liat-liat buku yang di etalase. Akhirnya dipaksain deh ngeliat-liat buku yang di etalase, walaupun harus sambil jongkok, nungging, n’ miring-miringin badan (agak tengsin juga sih hehehe, tapi ga pa2 ah). Yaaah, teteup ga ada juga yang mau dibeli. Pas ngeliat ke luar toko, Si Echie (adik saya), udah ngeliatin aja, seolah menyampaikan pesan “Buruan tau! Dah lama nieee”. Tapi tunggu,,,,di pojokan etalase, ada judul yang ngebuat mata saya berbinar…. ^_^

Ya Allah, ini keberuntungan yang keberapa dalam membeli bahan bacaan. Edisi khusus suatu majalah yang setahunan ini saya cari ke toko buku, saya kejar ke penyalur resminya, dan harus berakhir dengan kecewa karena ternyata edisi itu udah ga bersisa dan ga diterbitin lagi. Ternyata hari ini saya melihat judul yang sama dalam bentuk buku. Fantastis! Berikut ini saya resensikan untuk Anda…..

Siap? Tunggu dulu…. bernasyid sebentar yukz ^_^, mari kita buka dengan basmalah

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Buku setebal 138 halaman yang diterbitkan Tarbawi Press pada Juni 2007 ini, berjudul “Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru“. Di sampul depannya ada foto bersahaja seorang tua dengan tatapan lembut, namun sinar matanya tetap tajam, itulah “sang guru”, KH Rahmat Abdullah.

Bab pertama buku ini berjudul “Telaga Keyakinan dalam Pilar-Pilar Asasiyat“. Dibawah judul itu, tertulis untaian kata yang diambil dari tulisan “sang guru” di kolom Asasiyat Tarbawi edisi 51, begini isinya, “diperlukan suatu hentakan yakin yang akan melahirkan keberanian, keteguhan, dan kesabaran, tertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk”. Tulisan ini membawa ingatan saya pada Bilal bin Rabah, seorang mantan budak dari Habsyi. Mungkin karena sesuatu yang disebut dengan “keyakinan” itulah, sang muadzin Rasul itu tahan dipanggang di bawah teriknya padang pasir, lalu sosok lemah itu masih dengan tegar berucap “ahad,,, ahad,,,“.

Bab ini berisi ringkasan pemikiran Ustadz Rahmat, sapaan untuk KH Rahmat Abdullah, yang pernah dimuat Baca lebih lanjut

Episode Cinta Sang Murabbi

Penulis : Helvy Tiana Rosa, dkk
Penerbit : pustaka ikadi
Cetakan I : September 2005

Akhirnya berjodoh juga untuk membaca buku ini. setelah sekian lama ngubek-ngubek toko buku untuk nyari buku ini (dan gak ketemu T_T), tanpa sengaja saya menanyakan buku tersebut ke seorang teman. Beruntung! Dialog yang berlangsung saat belajar bareng di sekre tercinta itu membuahkan hasil positif, beberapa waktu kemudian saya meminjamnya.

Mendengar judul buku ini, apa yang terbayang di benak Anda? Baca lebih lanjut

Dakwah visioner (KH Rahmat Abdullah)

rahmatabdullah.jpg

Judul                : Dakwah visioner
pengarang       : KH Rahmat Abdullah
Penerbit          : Tarbawi Press

Alangkah jauhnya makna sabar yang dinamis dan berdaya dengan makna sabar dalam bahasa bangsa yang malang. Para intelektualnya sabar dengan mendiamkan kezaliman. Rakyatnya sabar dengan menikmati kezaliman. Pemimpinnya sabar menutup telinga dari rintihan rakyat yang kehabisan segala-galanya. Koruptornya sabar membutakan mata terhadap perubahan diri, dari manusia menjadi kera dan babi serta predator kejam yang menghancurkan bangsa besar ini. semua sabar dalam api kezaliman; “Fama ashbaruhum ala’n Naar!” alangkah sabarnya mereka berada di atas api neraka (QS Al-Baqarah: 175)

Paragraph di atas adalah secuil kalimat yang terdapat di dalam buku ini. Dan kalimat itulah yang ditertulis di sampul bagian belakang buku ini. Bahasa buku ini indah, namun tidak mengurangi bobot dan kebenarannya. Membaca di tempat yang sunyi mungkin menjadi salah satu cara untuk mempermudah dalam memahami isinya.

Naskah buku, dengan jumlah halaman sebanyak 80 halaman ini, diperoleh Tarbawi secara khusus dari keluarga KH Rahmat Abdullah, beberapa waktu setelah kepergiannya. Buku ini, memanglah sebuah tuangan pemikiran yang belum tuntas dikerjakan. Buku ini, menurut dugaan Tarbawi, lazimnya berisi enam bab. Namun di bab terakhirnya belum ditulis satu patah katapun, hanya tercantum dalam bentuk judul, yaitu ijtinaab asbaab ta-akhkhur (menghindari sebab-sebab kemunduran). Maka, naskah tulisan itu ditampilkan sebagaimana aslinya, dengan tanpa menambah apalagi mereka-reka, begitu tulis tarbawi pada kata pengantar buku ini. Baca lebih lanjut

Inti buku “Breaking The Time”, karangan Satria Hadi Lubis

Tahapan breaking the time :

1. Membuat misi

2. Menentukan peran

3. Membuat visi peran

4. Membuat rencana pekanan

5. Membuat rencana harian

<=> Membuat misi

Ciri misi hidup positif :

1. Luhur => bersumber dari nilai2 universal yang berasal dari Allah

2. Flexible => tidak kaku, dan member ruang bagi perubahan2 cara untuk mencapai tujuan.

3. Menarik => mampu memotivasi penyandangnya untuk senantiasa menjalankan dan mempertahankannya dalam berbagai situasi

4. Spiritual => bersifat non materi dan abstrak. Ia tidak dapat diukur secara kuantitatif, hanya dapat dirasakan secara subyektif melalui pendekatan kualitatif

5. Jelas => biasanya mengandung kata2 yang tidak mempunyai makna ganda. Harus mudah untuk dipahami dan dihayati

6. Singkat => dianjurkan hanya memakai 1 kalimat. Jika terpaksa boleh lebih, tapi sebaiknya gak lebih dari 3 kalimat. Misi perlu dibuat singkat supaya mudah diingat dan dihapal

Cara membuat misi :

{1} Menjawab 6 unsur misi :

1. Siapa saya è mencerminkan diri esutuhnya. Jangan parsial, misal : saya mahasiswa or menyebutkan nama

2. Mengapa saya ada è jawab dengan jujur kenapa saya ada menurut versi anda, bukan menurut orang lain

3. Apa kelebihan saya è yang telah anda miliki ketika menulis misi ini, bukan yang akan anda miliki di masa depan.

4. Untuk siapa saya bekerja è bukan sebatas pekerjaan formal. Penekanannya adalah kepada siapa yang anda layani selama ini? Atau yang akan anda layani di masa datang?

5. Apa hasil dari pekerjaan saya è bisa barang or jasa. Klo ternyata banyak, pilih yang dominan aja

6. Di mana syaa mengerjakannya (opsional) è anda melakukannya di areal sempit or luas. Jika jawaban anda sempit, seperti nama kelurahan, berarti anda menekankan pada kekhasan misi yang hanya cocok di tempat tersebut. Jika luas, berarti bisa dilakukan di mana saja.

{2} Menggabungkan jawaban pertanyaan tentang misi menjadi satu or beberapa kalimat

<=> Menentukan peran

( barang siapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan = Shakespeare =)

Pedoman : KISS (Keep It Short dan Simple Membuat rencana pekanan

Rencana pekanana adalah sasaran jangka menengah yang lebih cocok digunakan daripada rencana bulanan. Sebab rencana bulanan terlalu panjang, sehingga sulit mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran.

<=> Membuat visi peran

Buatlah visi berdasarkan kemauan anda sendiri. Visi merupakan cita2 dan harapan tentang masa depan.

<=> Membuat rencana pekanan

Rencana pekanana adalah sasaran jangka menengah yang lebih cocok digunakan daripada rencana bulanan. Sebab rencana bulanan terlalu panjang, sehingga sulit mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran.

<=> Membuat rencana harian

Hilangkan kebiasaan menunda pekerjaan

Jika anda ingin membuat pekerjaan ringan menjadi tampak berat, maka tunda saja pekerjaan itu (Ohlin Miller)