Memohon Pertolongan Allah

solat

Kemarin-kemarin saya sempat kesulitan solat subuh berjamaah di masjid. Jangankan bangun di sepertiga malam yang akhir, bangun saat adzan subuh saja susahnya minta ampun.

Mulanya saya menganggap ini hal yang “biasa”. Tapi ketika kejadian ini berlangsung beberapa waktu, saya mulai gelisah. Waduh, ada apa ini? Masak untuk sesuatu yang disuruh merangkak pun seharusnya saya mau melakukannya, ini malah tidak bisa? Bagaimana ini?

Baca lebih lanjut

Peluang di Sisa Waktu

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
(QS. Al-Anfal: 2-3)

Ramadhan tinggal sekerat, sebentar lg habis. Ayo, siapa ikut berlomba menyantapnya? Ini perlombaan yg semua bisa ambil bagian, asal tak malas turun ke gelanggang… dan tak terlambat datang, tentu. Baca lebih lanjut

Suami Sadar Diri, Istri Tahu Diri

pengantin

Dalam menghadapi masalah rumah tangga memang dibutuhkan kesadaran dua pihak: suami dan istri. Hanya suami saja yang sadar, bisa merana. Hanya istri saja yang sadar, bisa makan hati. Itulah kenapa penting untuk menghadirkan kesadaran bagi masing-masing pihak.

Suami yang lupa diri bisa bahaya. Merasa paling benar, merasa paling kuasa. Akibatnya ketika istri tidak nurut, jadi ringan tangan. Padahal, saya pikir, semua setuju – setidaknya pada awalnya, bahwa tangan kekar seorang suami itu bukan untuk menghajar makhluk bernama istri.

Kalau punya tangan kuat, lengan berotot, bukankah lebih membahagiakan Baca lebih lanjut

Api dalam Rumah Tangga

api cinta

Perasaan saya hampir selalu berantakan setiap mendapat cerita tentang rumah tangga yang tidak harmonis. Ada yang selingkuh, ada yang ringan tangan, ada yang diadu domba oleh keluarga besar, dan sederet masalah lainnya. Saya sedih, geram, pilu, benci, tapi… tetap tak bisa bantu banyak.

Pastilah banyak sebab kenapa sebuah keluarga tidak harmonis. Namun keributan-keributan besar bisa jadi bermula dari masalah kecil yang diberi ruang untuk menjadi besar. Mungkin ini seperti api. Api yang mulanya kecil, bisa bertahan lama bahkan membumbung ketika diberi ruang untuk menjadi besar. Api kecil itu mulanya mungkin bisa menghangatkan dan menjadi “berkah”. Tapi ketika api itu membumbung dan membakar rumah kita, nah, itu musibah! Baca lebih lanjut

Membicarakan Masalah

Pak tua asal Jerman itu benar ketika dia mengingatkan, “Don’t lose time to talk to much about the problem.” Ya, punya masalah itu sendiri sudah merupakan satu masalah. Jangan ditambah lagi jadi dua, tiga, empat, dan seterusnya dengan terlalu banyak membicarakan masalah tersebut. Terlalu banyak membicarakan masalah bisa berakhir pada tindakan buang-buang energi. Bahkan, bisa-bisa malah lupa permasalahan awalnya.

Sebenarnya ada pertanyaan pribadi yang ingin saya tanyakan ke dia: Bagaimana cara bapak menjalani hari-hari untuk menyelesaikan permasalahan yang sepertinya tak kunjung selesai — yang jangankan selesai, membicarakan masalahnya itu sendiri bisa jadi berlarut-larut? Bagaimana bisa bapak bersabar menjalani itu semua? Baca lebih lanjut

Memenangkan Komitmen di Atas Goda

rantai

 

 

Bilal bin Rabah. Lelaki hitam dari Habasyah itu memang bikin keki. Apa pasal?

Suatu hari cahaya Ilahi datang menyapanya. Ia takjub, bersyukur, lalu menyatakan keislaman kepada Muhammad. Saat itu ia masih berstatus sebagai budak Umayah bin Khalaf.

Umayah jelas tak suka dengan keberhasilan dakwah Muhammad. Apalagi keberhasilan ini menyentuh harga dirinya sebagai orang Quraisy Baca lebih lanjut