Suami Sadar Diri, Istri Tahu Diri

pengantin

Dalam menghadapi masalah rumah tangga memang dibutuhkan kesadaran dua pihak: suami dan istri. Hanya suami saja yang sadar, bisa merana. Hanya istri saja yang sadar, bisa makan hati. Itulah kenapa penting untuk menghadirkan kesadaran bagi masing-masing pihak.

Suami yang lupa diri bisa bahaya. Merasa paling benar, merasa paling kuasa. Akibatnya ketika istri tidak nurut, jadi ringan tangan. Padahal, saya pikir, semua setuju – setidaknya pada awalnya, bahwa tangan kekar seorang suami itu bukan untuk menghajar makhluk bernama istri.

Kalau punya tangan kuat, lengan berotot, bukankah lebih membahagiakan Baca lebih lanjut

Api dalam Rumah Tangga

api cinta

Perasaan saya hampir selalu berantakan setiap mendapat cerita tentang rumah tangga yang tidak harmonis. Ada yang selingkuh, ada yang ringan tangan, ada yang diadu domba oleh keluarga besar, dan sederet masalah lainnya. Saya sedih, geram, pilu, benci, tapi… tetap tak bisa bantu banyak.

Pastilah banyak sebab kenapa sebuah keluarga tidak harmonis. Namun keributan-keributan besar bisa jadi bermula dari masalah kecil yang diberi ruang untuk menjadi besar. Mungkin ini seperti api. Api yang mulanya kecil, bisa bertahan lama bahkan membumbung ketika diberi ruang untuk menjadi besar. Api kecil itu mulanya mungkin bisa menghangatkan dan menjadi “berkah”. Tapi ketika api itu membumbung dan membakar rumah kita, nah, itu musibah! Baca lebih lanjut

Arsitek Rumah Tangga Itu Bernama Ayah

saya n\' papa

Setiap bangunan megah di muka bumi, selalu dibangun oleh seorang arsitek. Bangunan peradaban saat ini pun dibangun oleh arsitek berjiwa besar dengan kontribusi yang besar juga. Arsitek-arsitek itu mungkin tak selalu memiliki nama besar dan terkenal, tapi arsitek-arsitek peradaban itu tersebar di luas di tempat umum, atau menyusup di tempat-tempat sempit. Tidak peduli di mana tempatnya, nyatanya mereka tetap memberi kontribusi yang besar untuk bangunan peradaban ini.

Masing-masing bangunan ada arsiteknya sendiri. Begitu juga dengan rumah tangga, arsiteknya tak lain tak bukan adalah seorang ayah. Di rumah saya, arsitek itu dipanggil “papa”. Papa, seorang seorang yang darinya saya banyak belajar tentang ketegasan, sikap pantang menyerah, menjadi lebih berani, dan berbagi cinta kasih. Bahkan secara tidak disadari (Alhamdulillah sekarang sudah sadar ^^), salah satu kontributor konsep “motivasi tiada henti” dalam diri saya adalah beliau, ayah saya.

Di malam-malam yang sepi, kadang kami ngobrol bersama, sambil minum teh hangat. Beliau bercerita tentang perjuangan keras yang beliau hadapi. Bercerita tentang masa-masa sulit, masa-masa harus Baca lebih lanjut