Logika Supir Taksi Vs Orang Ngantuk

Hari hampir berganti. Setelah menunggu sekitar 45 menit, akhirnya tiba juga jadwal berangkat travel menuju Bandung. Saya yang memang sudah ngantuk berat, seperti dapat tempat istimewa untuk tidur. Maka sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung, saya benar-benar tidak terbangun sedetik pun. Bahkan setelah travel berhenti, saya belum benar-benar sadar bahwa sudah sampai Bandung.

Oh, ini sudah sampai Bandung, ya? Oh, sudah jam 2 dini hari, ya? Oh, gimana caranya nyampe rumah? Oh, ada taksi lewat, ya? Oh, naik taksi aja! Baca lebih lanjut

Suami Sadar Diri, Istri Tahu Diri

pengantin

Dalam menghadapi masalah rumah tangga memang dibutuhkan kesadaran dua pihak: suami dan istri. Hanya suami saja yang sadar, bisa merana. Hanya istri saja yang sadar, bisa makan hati. Itulah kenapa penting untuk menghadirkan kesadaran bagi masing-masing pihak.

Suami yang lupa diri bisa bahaya. Merasa paling benar, merasa paling kuasa. Akibatnya ketika istri tidak nurut, jadi ringan tangan. Padahal, saya pikir, semua setuju – setidaknya pada awalnya, bahwa tangan kekar seorang suami itu bukan untuk menghajar makhluk bernama istri.

Kalau punya tangan kuat, lengan berotot, bukankah lebih membahagiakan Baca lebih lanjut

Api dalam Rumah Tangga

api cinta

Perasaan saya hampir selalu berantakan setiap mendapat cerita tentang rumah tangga yang tidak harmonis. Ada yang selingkuh, ada yang ringan tangan, ada yang diadu domba oleh keluarga besar, dan sederet masalah lainnya. Saya sedih, geram, pilu, benci, tapi… tetap tak bisa bantu banyak.

Pastilah banyak sebab kenapa sebuah keluarga tidak harmonis. Namun keributan-keributan besar bisa jadi bermula dari masalah kecil yang diberi ruang untuk menjadi besar. Mungkin ini seperti api. Api yang mulanya kecil, bisa bertahan lama bahkan membumbung ketika diberi ruang untuk menjadi besar. Api kecil itu mulanya mungkin bisa menghangatkan dan menjadi “berkah”. Tapi ketika api itu membumbung dan membakar rumah kita, nah, itu musibah! Baca lebih lanjut

Selamat Tahun Baru 2014

Saya benar-benar tidak menyangka, tulisan “Berhentilah Sebentar, Kawan” menjadi postingan saya yang terakhir sejak Oktober 2013 lalu. Sejak saat itu, ternyata saya tidak posting tulisan lagi, saya “berhenti”. Untungnya “berhenti” di situ bukan berhenti menulis. Saya tetap menulis. Hanya saja, setiap mau posting di blog, kok, tidak sempat-sempat.

Oke, saya memang sudah meniatkan untuk tidak menjadikan tulisan tersebut sebagai tulisan terakhir di tahun 2013. Maka kemudian saya posting tulisan ini hehe.

Well, selamat tahun baru 2014. Semoga di tahun ini, kita bisa lebih baik lagi, lebih produktif dalam kebaikan yang berguna untuk kebaikan. Aamiin 🙂

Senang Tanpa Alasan

 

Fadhil-Dedi

Fadhil-Dedi

Ashar yang cerah. Saya bergegas menuju masjid. Tidak sendiri. Ada Fadhil di samping saya.

Terlihat jelas usaha bocah 9 tahun itu menyejajari langkah saya. Sesekali dibetulkannya letak sarung yang mulai kedodoran. Perut gendutnya goyang-goyang. Wajar, berat badannya 45 kilo! Agak geli juga saya melihatnya.

Iseng, saya tanya dia, “Seneng ga punya adek baru?” Baca lebih lanjut

Pikir-Pikir Beli Barang Murah

Jangan membeli barang hanya karena murah!

Kalau tulisan ini berhenti di kalimat itu saja, kemungkinan banyak yang protes ya. Dibilang sok kaya lah, sok makmur lah, dan ucapan-ucapan sejenisnya hehe… Tapi beneran, sebisa mungkin jangan beli barang hanya karena murah.

Di mall, pameran, atau pasar, sering lihat barang dengan harga murah, kan? Lagi diskon katanya, lagi cuci gudang judulnya, obral besar-besaran tulisan di posternya. Ya, jangan beli barang-barang itu hanya karena harganya murah! Meski harganya cuma 10 ribu, meski harganya cuma 5 ribu!

Karena membeli barang hanya karena harganya murah berpotensi menjadikan kita bersikap boros dan mubazir. Kok bisa? Baca lebih lanjut